Páginas

Thursday, February 28, 2013

Fisiologi Sel Beserta Fungsi-Fungsinya (FIK)



Fisiologi
Fisiologi Sel Beserta Fungsi-Fungsinya


Dosen pembimbing:
Drs. Umar Namawi, MS.,AIFO







OLEH
KELOMPOK I (satu)

Rafi Purwanto
1102962/ 2011

Afdal Yusra
1102963/ 2011

Sofwan Erliansyah
1102965/ 2011

Afrizon
1102967/ 2011

Rendi Yenzia Ulfa
1102968/ 2011

Muhammad Fauzi
1103065/ 2011


Rasqi Mahezal
1107281/ 2011









JURUSAN KEPELATIHAN OLAHRAGA
FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2012
DAFTAR PUSTAKA


BAB I

PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Fisiologi adalah ilmu yang mempelajari fungsi tiap organ-organ tubuh, fungsi setiap bagian yang membentuk suatu organ, serta hubungan fungsional antar organ tubuh tersebut, agar terjadi suatu sistem yang komprehensif sehingga dapat menghidupi suatu individu secara normal – fisiologis. Bagaimana fungsi setiap organella yang terdapat di dalam sel, serta hubungannya dengan proses dan mekanisme suatu bahan dapat di sintesa dan di ekskresi oleh suatu sel.
Dengan perkembangan ilmu yang mempelajari biomolekuller, maka fisiologi makin jelas untuk mengungkap proses dan mekanisme fungsi tiap organella yang menyusun suatu sel. Fisiologi tidak hanya mempelajari fisiologi organ atau sistem, selanjutnya berkembang menjadi fisiologi selluler kemudian menjadi fisiologi molekuller.
Dalam suatu organ tersusun oleh sel-sel utama, jaringan penunjang, sistem sirkulasi darah dan limfe, inervasi saraf serta jaringan pelindung
/ proteksi. Didalam sel terdapat inti (nucleus) yang sangat berperan menentukan fungsi suatu sel. DNA didlam inti sel merupakan blueprint ataupun suatu genetic message untuk menentukan lokasi, morfologi, struktur serta karakteristic suatu sel sehingga mencerminkan fungsi suatu jaringan (Guyton and hall. 2006).
Struktur Umum Sel.
Secara umum morfologi sel terdiri dari sitoplasma yang dibatasi oleh suatu membran sel, inti, serta organella didalam sitosol. Antara satu sel dengan sel yang lain terdapat ruang atau celah yaitu ruang antar sel atau interstisial (interstitiel), yang berisi suatu cairan (Ganong W F, 2005).
Pertukaran cairan, elektrolit, nutrisi maupun bahan lain terjadi didaerah kapiler pembuluh darah dengan cairan interstisial ataupun dengan cairan sitoplasma (sitosol).
Suatu sel tersususn oleh sitoplasma yang dilindungi oleh membran sel. Didalam sitoplasma terisi cairan yang disebut sitosol, didalam sitoplasma terdapat struktur yang disebut organella, sitoskeleton serta bahan-bahan yang diperlukan untuk reaksi biokimia didalam sel.
B.     Tujuan
Pembaca dapat memahami tentang Fisiologi Sel beserta fungsinya dan dapat mengaplikasikannya dalam olahraga















BAB II
FISIOLOGI SEL
Sel adalah unit terkecil yang bersiffat fungsional. Sangat penting dalam menjalankan fungsi kehidupan. Fungsi biologi sel diantaranya adalah sebagai penunjang, pergerakan, pernafasan,, pencernaan, pengumpulan bahan,distribusi bahan, eksresi,dan reproduksi.
Sel terdiri dari tiga bagian utama yaitu:  selaput plasma, inti sel, dan sitoplasma.
A.    Selaput Plasma (Membrane Sel)
Membran sel yang membatasi sel disebut sebagai membran plasma dan berfungsi sebagai rintangan selektif yang memungkinkan aliran oksigen, nutrien, dan limbah yang cukup untuk melayani seluruh volume sel. Membran sel juga berperan dalam sintesis ATP, pensinyalan sel, dan adhesi sel. Yang memisahkan dari lingkungan sekitarnya. Membran sel berupa lapisan sangat tipis yang terbentuk dari molekul lipid, protein, dan karbohidrat. Membran sel bersifat dinamik dan kebanyakan molekulnya dapat bergerak di sepanjang bidang membran. Molekul lipid membran tersusun dalam dua lapis dengan tebal sekitar 5 nm yang menjadi penghalang bagi kebanyakan molekul hidrofilik. Molekul-molekul protein yang menembus lapisan ganda lipid tersebut berperan dalam hampir semua fungsi lain membran, misalnya mengangkut molekul tertentu melewati membran. Ada pula protein yang menjadi pengait struktural ke sel lain, atau menjadi reseptor yang mendeteksi dan menyalurkan sinyal kimiawi dalam lingkungan sel. Diperkirakan bahwa sekitar 30% protein yang dapat disintesis sel hewan merupakan protein membran.
Secara spesifiknya fungsi dari membran sel adalah sebagai berikut:
1.      Kompartemenisasi.
Membrane sel merupakan selaput berkelanjutan dan tidak putus yang menbatasi yang menyelubungi suatu ruangan. Membrane sel menyelubungi isi seluruh sel.
2.      Interaksi antar sel.
Membran sel bertanggung jawab terhadap interaksi antar sel satu dengan yang lainnya. Alat tubuh  pada umumnya terdiri dari beberapa macam sel yang berbeda dan harus bekerja sama untuk menjalankan keseluruhan kehidupan.
3.      Pengubahab energy.
Perubahan energy sangat dibutuhkan dan membran plasma sangat berperan dalam proses ini.
4.      Transport informasi.
Di dalam membrane sel terdapat reseptor yang mampu berkomunikasi dengan molekul tertentu dengan bentuk yang sesuai, seperti selalu berkombinasi dengan substrat yang sesuai.
5.      Penyediaan enzim.
Membrane terbentuk hamper sebagian besar oleh protein dan lemak dengan persentase kombinasi kira-kira 62% protein, 35% lemak, 3% polisakarida.

B.     Inti Sel (Nucleus)
Nukleus atau inti sel adalah pusat pengendalian fungsi suatu sel. Pada manusia ada juga sel yang tidak berinti yaitu eritrosit, tetapi pada saat pembentukannya juga berinti. Didalam inti terdapat chromosom, pada manusia jumlahnya 23 pasang (diploid : 46) kecuali pada ovum dan spermatozoa jumlahnya 23 oleh karena haploid. Chromosom tersebut tersusun oleh kumpulan gene yang terdiri dari rangkaian rantai DNA (Deoxy ribo nucleic acid).
            Didalam nukleus dapat dilakukan replikasi DNA, sintesa RNA, sehingga dapat mengontrol struktur sel, sintesa enzim di organella, atau dengan arti lain bahwa nukleus mengendalikan struktur dan fungsi suatu sel.
            Inti sel bagian yang penting karena tampa inti sel maka sebuah sel tidak akan mampu memperbaiki diri apabila mengalami sebuah kerusakan dan juga ridak dapat bereproduksi (berkembang biak).Pada inti sel terdapat beberapa bagaian yaitu:
1.      Membran inti.
Dinding inti terdiri dua lapis sehingga disebut nuclear envelope (dua lapis membran : inner and outer nuclear membrane), dinding inti terdapat lubang (pores),sehingga dapat dilalui oleh zat-zat yang kan keluar masuk sel tersebut.
2.      Nucleolus.
Atau anak inti sel, sering ditemukan satu atau lebih dalam sebuah inti sel. Setiap inti sel terbentuk dari asan ribonukleat (RNA) dan protein. Secara tidak langsung anak inti sel berperan dalam penyusunan protein.
3.      Benang kromatin.
Terbentuk dari DNA dan protein. Pada saat sel akan membelah, benang-benang ikromatin memendek,, menebal dan mudah menyerap zat warna tertentu. Benang tersebut disebut dengan kromosom yang membawa sifat gen.

Dinding sel berfungsi untuk melindungi sel terhadap gangguan dari luar sel. Misalnya; menjaga pengaruh tekanan osmosis dari luar sel.

C.    Sitoplasma
Sitoplasma atau plasma sel adalah zat yang berada antara membrane sel dan inti sel. Cairan itu terdiri dari sitoplasma dan organel-organel sel. Sitoplasma berbentuk cair dan semitransparan dan kenyal yang tersusun oleh air, bahan organik dan anorganik. Pada sel yang hidup sitoplasma senantiasa bergerak. Semua zat yang diperlukan sel akan larut dan akan bergerak dalam sitoplasma.




Organel-Organel Sel
Organel-organel sel mempunyai fungsi kusus dan dibangun oleh sistem membran. Membran yang membangunnya mempunyai susunan seperti membrane plasma. Adapun organel tersebut adalah sebagai berikut:
a.      Mitochondria
Sebagian besar sel eukariota mengandung banyak mitokondria, yang menempati sampai 25 persen volume sitoplasma. Organel ini termasuk organel yang besar, secara umum hanya lebih kecil dari nukleus, vakuola, dan kloroplas. Nama mitokondria berasal dari penampakannya yang seperti benang (bahasa Yunani mitos, 'benang') di bawah mikroskop cahaya.
Organel ini memiliki dua macam membran, yaitu membran luar dan membran dalam, yang dipisahkan oleh ruang antarmembran. Luas permukaan membran dalam lebih besar dari pada membran luar karena memiliki lipatan-lipatan, atau krista, yang menyembul ke dalam matriks, atau ruang dalam mitokondria.
Mitokondria adalah tempat berlangsungnya respirasi selular, yaitu suatu proses kimiawi yang memberi energi pada sel. Karbohidrat dan lemak merupakan contoh molekul makanan berenergi tinggi yang dipecah menjadi air dan karbon dioksida oleh reaksi-reaksi di dalam mitokondria, dengan pelepasan energi. Kebanyakan energi yang dilepas dalam proses itu ditangkap oleh molekul yang disebut ATP. Mitokondria-lah yang menghasilkan sebagian besar ATP sel. Energi kimiawi ATP nantinya dapat digunakan untuk menjalankan berbagai reaksi kimia dalam sel. Sebagian besar tahap pemecahan molekul makanan dan pembuatan ATP tersebut dilakukan oleh enzim-enzim yang terdapat di dalam krista dan matriks mitokondria, karena tiu pada mitochondria terdapat enzim pernafasan, adapun enzim tersebut adalah sebagai berikut:
·         Enzim-enzim terdapat pada membran sebelah luar,
·         Enzim pada ruang antara membrane luar dan membrane dalam,
·         Enzim pada membrane sebelah dalam, dan
·         Enzim pada matriks mitochondria
Mitokondria memperbanyak diri secara independen dari keseluruhan bagian sel lain. Organel ini memiliki DNA sendiri yang menyandikan sejumlah protein mitokondria, yang dibuat pada ribosomnya sendiri yang serupa dengan ribosom prokariota.
Karena proses oksidasi bahan-bahan makanan untuk menghasilkan energy pada mitochondria, maka dia disebut juga dapur energy.

b.      Reticulum Endoplasma

Reticulum merupakan rangkaian-rangkaian yang lebih komplek dari saluransaluran di dalam sel sitoplasma. Retikulum endoplasma merupakan perluasan selubung nukleus yang terdiri dari jaringan (reticulum = 'jaring kecil') saluran bermembran dan vesikel saling terhubung.     Terdapat dua bentuk retikulum endoplasma, yaitu retikulum endoplasma kasar dan retikulum endoplasma halus.
Retikulum endoplasma kasar disebut demikian karena permukaannya ditempeli banyak ribosom. Ribosom yang mulai mensintesis protein dengan tempat tujuan tertentu, seperti organel tertentu atau membran, akan menempel pada retikulum endoplasma kasar. Protein yang terbentuk akan terdorong ke bagian dalam retikulum endoplasma yang disebut lumen. Di dalam lumen, protein tersebut mengalami pelipatan dan dimodifikasi, misalnya dengan penambahan karbohidrat untuk membentuk glikoprotein. Protein tersebut lalu dipindahkan ke bagian lain sel di dalam vesikel kecil yang menyembul keluar dari retikulum endoplasma, dan bergabung dengan organel yang berperan lebih lanjut dalam modifikasi dan distribusinya. Kebanyakan protein menuju ke badan Golgi, yang akan mengemas dan memilahnya untuk diantarkan ke tujuan akhirnya.
Retikulum endoplasma halus tidak memiliki ribosom pada permukaannya. Retikulum endoplasma halus berfungsi misalnya dalam sintesis lipid komponen membran sel. Dalam jenis sel tertentu, misalnya sel hati, membran retikulum endoplasma halus mengandung enzim yang mengubah obat-obatan, racun, dan produk sampingan beracun dari metabolisme sel menjadi senyawa-senyawa yang kurang beracun atau lebih mudah dikeluarkan tubuh.
Secara umum endoplasmic reticulum mempunyai fungsi transport untuk bahanbahan yang dihasilkan oleh reticulum endoplasma granular ke organel-organel lain.

c.       Kompleks golgi
Badan Golgi (disebut juga aparatus Golgi, kompleks Golgi atau diktiosom) adalah organel yang dikaitkan dengan fungsi ekskresi sel, dan struktur ini dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop cahaya biasa. Organel ini terdapat hampir di semua sel eukariotik dan banyak dijumpai pada organ tubuh yang melaksanakan fungsi ekskresi, misalnya ginjal. Setiap sel hewan memiliki 10 hingga 20 badan Golgi, sedangkan sel tumbuhan memiliki hingga ratusan badan Golgi. Badan Golgi pada tumbuhan biasanya disebut diktiosom.
Badan Golgi ditemukan oleh seorang ahli histologi dan patologi berkebangsaan Italia yang bernama Camillo Golgi.
Beberapa fungsi badan golgi antara lain :
1.      Membentuk kantung (vesikula) untuk sekresi. Terjadi terutama pada sel-sel kelenjar kantung kecil tersebut, berisi enzim dan bahan-bahan lain.
2.      Membentuk membran plasma. Kantung atau membran golgi sama seperti membran plasma. Kantung yang dilepaskan dapat menjadi bagian dari membran plasma.
3.      Membentuk dinding sel tumbuhan.
4.      Fungsi lain ialah dapat membentuk akrosom pada spermatozoa yang berisi enzim untuk memecah dinding sel telur dan pembentukan lisosom.
5.      Tempat untuk memodifikasi protein.
6.      Untuk menyortir dan memaket molekul-molekul untuk sekresi sel.
7.      Untuk membentuk lisosom.

d.      Ribosom
Ribosom merupakan tempat sel membuat protein. Sel dengan laju sintesis protein yang tinggi memiliki banyak sekali ribosom, contohnya sel hati manusia yang memiliki beberapa juta ribosom. Ribosom sendiri tersusun atas berbagai jenis protein dan sejumlah molekul RNA.    Ribosom eukariota lebih besar daripada ribosom prokariota, namun keduanya sangat mirip dalam hal struktur dan fungsi. Keduanya terdiri dari satu subunit besar dan satu subunit kecil yang bergabung membentuk ribosom lengkap dengan massa beberapa juta dalton.
Pada eukariota, ribosom dapat ditemukan bebas di sitosol atau terikat pada bagian luar retikulum endoplasma. Sebagian besar protein yang diproduksi ribosom bebas akan berfungsi di dalam sitosol, sementara ribosom terikat umumnya membuat protein yang ditujukan untuk dimasukkan ke dalam membran, untuk dibungkus di dalam organel tertentu seperti lisosom, atau untuk dikirim ke luar sel. Ribosom bebas dan terikat memiliki struktur identik dan dapat saling bertukar tempat. Sel dapat menyesuaikan jumlah relatif masing-masing ribosom begitu metabolismenya berubah.
e.       Lisosome
Lisosom adalah organel sel berupa kantong terikat membran yang berisi enzim hidrolitik yang berguna untuk mengontrol pencernaan intraseluler pada berbagai keadaan. Lisosom ditemukan pada tahun 1950 oleh Christian de Duve dan ditemukan pada semua sel eukariotik. Di dalamnya, organel ini memiliki 40 jenis enzim hidrolitik asam seperti protease, nuklease, glikosidase, lipase, fosfolipase, fosfatase, ataupun sulfatase. Semua enzim tersebut aktif pada pH 5. Fungsi utama lisosom adalah endositosis, fagositosis, dan autofagi.
Mencerna materi yang diambil secara endositosis, autofagi yaitu menyingkirkan unsur-unsur yang tidak dibutuhkan oleh sel, eksositosis yaitu pembebasan enzim di luar sel, misalnya ini terjadi pada pergantian tulang rawan pada perkembangan tulang (ossifikasi), autolysis yaitu penghancuran diri sel dengan cara membebaskan semua isi lisosom dalam sel.
f.       Plastida
Plastida adalah organel sel yang menghasilkan warna pada sel tumbuhan. Berupa butiran-butiran yang mengandung pigmen atau zat warna. Plastida ini merupakan hasil perkembangan dari badan kecil yang dikenal dengan proplastida yang banyak di daerah maristematik.


g.      Vacuola
Merupakan ronga-rongga kecil yang terdapat di dalam sel yang berisi cairan sel atau udara. Fungsinya adalah untuk penyimpanan bahan makanan dan sisa makanan, sisa pembakaran atau ampas yang akan dikeluarkan.
h.      Centrosome
Suatu organel sel yang terletak di tengah-tengah sel. Karena kebanyakan nucleus terletak ditengah sel, maka centrosome hamper terletak berdekatan dengan nucleus. Ffungsinya adalah untuk membangun proses mitosis (pembelahan sel).

Fungsi sel

Keseluruhan reaksi kimia yang membuat makhluk hidup mampu melakukan aktivitasnya disebut metabolisme, dan sebagian besar reaksi kimia tersebut terjadi di dalam sel. Metabolisme yang terjadi di dalam sel dapat berupa reaksi katabolik, yaitu perombakan senyawa kimia untuk menghasilkan energi maupun untuk dijadikan bahan pembentukan senyawa lain, dan reaksi anabolik, yaitu reaksi penyusunan komponen sel. Salah satu proses katabolik yang merombak molekul makanan untuk menghasilkan energi di dalam sel ialah respirasi selular, yang sebagian besar berlangsung di dalam mitokondria eukariota atau sitosol prokariota dan menghasilkan ATP. Sementara itu, contoh proses anabolik ialah sintesis protein yang berlangsung pada ribosom dan membutuhkan ATP.
A.    Komunikasi sel
Kemampuan sel untuk berkomunikasi, yaitu menerima dan mengirimkan 'sinyal' dari dan kepada sel lain, menentukan interaksi antarorganisme uniselular serta mengatur fungsi dan perkembangan tubuh organisme multiselular. Misalnya, bakteri berkomunikasi satu sama lain dalam proses quorum sensing untuk menentukan apakah jumlah mereka sudah cukup sebelum membentuk biofilm, sementara sel-sel dalam embrio hewan berkomunikasi untuk koordinasi proses diferensiasi menjadi berbagai jenis sel.
Komunikasi sel terdiri dari proses transfer sinyal antarsel dalam bentuk molekul (misalnya hormon) atau aktivitas listrik, dan transduksi sinyal di dalam sel target ke molekul yang menghasilkan respons sel. Mekanisme transfer sinyal dapat terjadi dengan kontak antarsel (misalnya melalui sambungan pengkomunikasi), penyebaran molekul sinyal ke sel yang berdekatan, penyebaran molekul sinyal ke sel yang jauh melalui saluran (misalnya pembuluh darah), atau perambatan sinyal listrik ke sel yang jauh (misalnya pada jaringan otot polos). Selanjutnya, molekul sinyal menembus membran secara langsung, lewat melalui kanal protein, atau melekat pada reseptor berupa protein transmembran pada permukaan sel target dan memicu transduksi sinyal di dalam sel. Transduksi sinyal ini dapat melibatkan sejumlah zat yang disebut pembawa pesan kedua (second messenger) yang konsentrasinya meningkat setelah pelekatan molekul sinyal pada reseptor dan yang nantinya meregulasi aktivitas protein lain di dalam sel. Selain itu, transduksi sinyal juga dapat dilakukan oleh sejumlah jenis protein yang pada akhirnya dapat memengaruhi metabolisme, fungsi, atau perkembangan sel.
B.     Siklus sel
Setiap sel berasal dari pembelahan sel sebelumnya, dan tahap-tahap kehidupan sel antara pembelahan sel ke pembelahan sel berikutnya disebut sebagai siklus sel. Siklus ini pada kebanyakan sel terdiri dari empat proses terkoordinasi, yaitu pertumbuhan sel, replikasi DNA, pemisahan DNA yang sudah digandakan ke dua calon sel anakan, dan pembelahan sel. Pada bakteri, proses pemisahan DNA ke calon sel anakan dapat terjadi bersamaan dengan replikasi DNA, dan siklus sel yang berurutan dapat bertumpang tindih. Hal ini tidak terjadi pada eukariota yang siklus selnya terjadi dalam empat fase terpisah sehingga laju pembelahan sel bakteri dapat lebih cepat daripada laju pembelahan sel eukariota. Pada eukariota, tahap pertumbuhan sel umumnya terjadi dua kali, yaitu sebelum replikasi DNA (disebut fase G1, gap 1) dan sebelum pembelahan sel (fase G2). Siklus sel bakteri tidak wajib memiliki fase G1, namun memiliki fase G2 yang disebut periode D. Tahap replikasi DNA pada eukariota disebut fase S (sintesis), atau pada bakteri ekuivalen dengan periode C. Selanjutnya, eukariota memiliki tahap pembelahan nukleus yang disebut fase M (mitosis).
Peralihan antartahap siklus sel dikendalikan oleh suatu perlengkapan pengaturan yang tidak hanya mengkoordinasi berbagai kejadian dalam siklus sel namun juga menghubungkan siklus sel dengan sinyal ekstrasel yang mengendalikan perbanyakan sel. Misalnya, sel hewan pada fase G1 dapat berhenti dan tidak beralih ke fase S bila tidak ada faktor pertumbuhan tertentu, melainkan memasuki keadaan yang disebut fase G0 dan tidak mengalami pertumbuhan maupun perbanyakan. Contohnya ialah sel fibroblas yang hanya membelah diri untuk memperbaiki kerusakan tubuh akibat luka. Jika pengaturan siklus sel terganggu, misalnya karena mutasi, risiko pembentukan tumor—yaitu perbanyakan sel yang tidak normal—meningkat dan dapat berpengaruh pada pembentukan kanker.
C.    Diferensiasi sel
Diferensiasi sel menciptakan keberagaman jenis sel yang muncul selama perkembangan suatu organisme multiselular dari sebuah sel telur yang sudah dibuahi. Misalnya, mamalia yang berasal dari sebuah sel berkembang menjadi suatu organisme dengan ratusan jenis sel berbeda seperti otot, saraf, dan kulit. Sel-sel dalam embrio yang sedang berkembang melakukan pensinyalan sel yang memengaruhi ekspresi gen sel dan menyebabkan diferensiasi tersebut.
D.    "Bunuh diri" sel
Sel dalam organisme multiselular dapat mengalami suatu kematian terprogram yang berguna untuk pengendalian populasi sel dengan cara mengimbangi perbanyakan sel, misalnya untuk mencegah munculnya tumor. Kematian sel juga berguna untuk menghilangkan bagian tubuh yang tidak diperlukan. Contohnya, pada saat pembentukan embrio, jari-jari pada tangan atau kaki manusia pada mulanya saling menyatu, namun kemudian terbentuk berkat kematian sel-sel antarjari. Dengan demikian, waktu dan tempat terjadinya kematian sel, sama seperti pertumbuhan dan pembelahan sel, merupakan proses yang sangat terkendali. Kematian sel semacam itu terjadi dalam proses yang disebut apoptosis yang dimulai ketika suatu faktor penting hilang dari lingkungan sel atau ketika suatu sinyal internal diaktifkan. Gejala awal apoptosis ialah pemadatan nukleus dan fragmentasi DNA yang diikuti oleh penyusutan sel.

Pembelahan Sel

Dalam perkembangan, biasanya sel bertambah banyak dengan cara membelah diri. Ada tiga cara sel memperbanyak diri yaitu; dengan cara langsung (amitosis), secara tidak langsung (mitosis) dan dengan jenis kelamin.
a)      Amitosis
Dengan cara membelah diri menjadi dua, dua jadi empat, empat jadi enam, dan seterusnya. Dengan proses, badan sel mengenting di tengah nucleus, sitoplasma menjadi dua sel yang bebas tetapi mempunyai sifat yag sama seperti sifat induknya.
b)      Mitosis
Dengan cara tidak langsung dengan melakukan face-face, Fase I disebut profase, Fase II disebut metaphase, Fase III disebut anaphase dan Fase IV disebut telofase.
 



Namawi Umar. 2011. Fisiologi Manusia. Padang: UNP.
Syamsiar Nyayu Nangsari. 1998. Pengantar Fisiologi Manusia. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi.
Alberts et al. 2002. Membrane Sel . (id.wikipedia.org)
Campbell et al. 2002. Nucleus. (id.wikipedia.org)

Artigos Relacionados

0 komentar, BUDAYAKAN UNTUK MENINGGALKAN KOMENTAR: