Páginas

Tuesday, February 25, 2014

Motorik Lanjutan (Belajar dan Pendekatan Psikologi)

Daren Laugh-



BAB 1
BELAJAR
1.      Apa itu pengertian belajar ?
Pengertian Belajar Menurut para ahli , Menurut Winkel, Belajar adalah semua aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dalam lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengelolaan pemahaman.
Menurut Ernest R. Hilgard dalam (Sumardi Suryabrata, 1984:252) belajar merupakan proses perbuatan yang dilakukan dengan sengaja, yang kemudian menimbulkan perubahan, yang keadaannya berbeda dari perubahan yang ditimbulkan oleh lainnya. Sifat perubahannya relatif permanen, tidak akan kembali kepada keadaan semula. Tidak bisa diterapkan pada perubahan akibat situasi sesaat, seperti perubahan akibat kelelahan, sakit, mabuk, dan sebagainya.
Sedangkan Pengertian Belajar menurut Gagne dalam bukunya The Conditions of Learning 1977, belajar merupakan sejenis perubahan yang diperlihatkan dalam perubahan tingkah laku, yang keadaaannya berbeda dari sebelum individu berada dalam situasi belajar dan sesudah melakukan tindakan yang serupa itu. Perubahan terjadi akibat adanya suatu pengalaman atau latihan. Berbeda dengan perubahan serta- merta akibat refleks atau perilaku yang bersifat naluriah. Moh. Surya (1981:32), definisi belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan. Kesimpulan yang bisa diambil dari kedua pengertian di atas, bahwa pada prinsipnya, belajar adalah perubahan dari diri seseorang. Pengertian Belajar Menurut Ahli Dari beberapa pengertian belajar di atas maka dapat disimpulkan bahwa semua aktivitas mental atau psikis yang dilakukan oleh seseorang sehingga menimbulkan perubahan tingkah laku yang berbeda antara sesudah belajar dan sebelum belajar.
Sumber: belajar psikologi.com/pengertian-belajar-menurut-ahli/


2.       Apa belajar pasti menghasilkan perubahan perilaku?
Apa itu Belajar? Kimble mendefinisikan belajar sebagai perubahan yang relatif permanen di dalam behavioral potentiality (potensi behavioral) yang terjadi sebagai akibat dari reinforced practice (praktik yang diperkuat). Dari definisi belajar tersebut setidaknya terdapat lima syarat yang harus dipenuhi sebelum perubahan perilaku dapat dihubungkan denganproses belajar, yaitu:
Pertama, belajar diukur berdasarkan perubahan dalam perilaku; dengan kata lain, hasil dari belajar harus selalu diterjemahakan ke dalam perilaku atau tindakan yang dapat diamati. Setelah menjalani proses belajar, pembelajar (learner) akan mampu melakukan sesuatu yang tidak bisa mereka lakukan sebelum mereka belajar. Namun pertanyaanya: Apakah belajar pasti menghasilkan perubahan perilaku? Sebuah ilmu pengetahuan atau sains membutuhkan pokok persoalan yang dapat diamati, dapat diukur. Dalam ilmu psikologi pokok persoalan yang diamati itu adalah perilaku. Kita mempelajari perilaku sehingga kita bisa mengambil kesimpulan mengenai proses yang diyakini merupakan sebab dari perubahan perilaku yang kita lihat.
 Dalam kasus ini, proses itu dinamakan belajar. Jadi, kebanyakan teoritisi belajar memandang belajar sebagai sebuah proses yang memperantarai perilaku. Menurut mereka, belajar adalah sesuatu yang terjadi sebagai hasil atau akibat dari pengalaman dan mendahului perubahan perilaku. Dalam kerangka definisi ini, belajar ditempatkan sebagai variabel pengintervensi (intervening) atau variable perantara. Variabel perantara ini adalah proses teoritis yang diasumsikan terjadi di antara stimuli dan respon yang diamati. Variabel independen (variabel bebas) (pengalaman) menyebabkan perubahan dalam variabel perantara (proses belajar), yang pada gilirannya akan menimbulkan perubahan dalam variabel dependen (variabel terikat) (perilaku).
Kedua, perubahan behavioral ini relative permanent; artinya, hanya sementara dan tidak menetap. Di sini setidaknya terdapat dua macam problem. Pertama, Seberapa lamakah perubahan perilaku harus bertahan sebelum dikatakan bahwa proses belajar telah kelihatan hasilnya? Aspek ini pada awalnya dimasukkan dalam definisi di atas untuk membedakan antara belajar dengan kejadian lain yang mungkin mengubah perilaku, seperti keletihan, sakit, pendewasaan, dan narkoba.
 Jelas, kejadian ini dan efeknya mungkin akan datang dan pergi dengan cepat, tetapi hasil dari belajar akan terus menetap sampai ia dilupakan atau muncul hasil belajar baru yang menggantikan hasil belajar yang lama. Jadi, keadaan temporer dan proses belajar akan memodifikasi perilaku, tetapi lewat belajar itulah modifikasi tersebut akan lebih relatif permanen. Namun, durasi modifikasi yang muncul dari belajar atau keadaan tubuh yang temporer itu tidak bisa ditentukan secara pasti.
Problem lainnya terkait dengan fenomena yang menjadi perhatian sejumlah psikolog, yang disebut short-term memory (memori jangka pendek). Mereka menemukan bahwa jika informasi yang asing, seperti kata-kata yang tak bisa dipahami, diberikan kepada seseorang dalam suatu percobaan di mana informasi itu tidak diulang- ulang, orang itu akan mengingat kata-kata itu secara hampir sempurna selama sekitar tiga detik saja. Tetapi dalam waktu 15 detik selanjutnya, ingatan mereka turun hingga hampir ke titik nol atau lupa sama sekali. Ketiga, perubahan perilaku itu tidak selalu terjadi secara langsung setelah proses belajar selesai. Artinya, hal- hal yang dipelajari mungkin tidak akan langsung dimanfaatkan. Atlet, misalnya, mungkin belajar posisi tertentu dengan melihat film dan mendengarkan penjelasan pelatih selama seminggu, namun mereka mungkin tidak menerjemahkan proses belajar itu ke dalam perilaku sampai tiba waktu pertandingan.
 Beberapa pemain bahkan tidak melakukan apa-apa selama waktu yang agak panjang karena sakit ataucidera. Keempat, perubahan perilaku itu berasal dari pengalaman atau praktik (latihan). Jelas bahwa tak semua perilaku dipelajari. Perilaku yang lebih sederhana adalah hasil dari refleks. Sebuah reflex (refleks) dapat didefinisikan sebagai respon yang tak dipelajari lebih dahulu atau respon pembawaan internal dalam rangka bereaksi terhadap sekelompok stimuli tertentu. Bersin ketika hidung Anda tergelitik, kaki Anda tersentak mendadak ketika lutut Anda dipukul, atau secara mendadak menarik tangan saat tersengat api adalah contoh dari tindakan refleks.
Perilaku refleks ini jelas tidak perlu dipelajari terlebih dahulu; ia adalah karakteristik bawaan genetic dari organisme, bukan hasil dari pengalaman. Perilaku yang kompleks juga bisa merupakan karakteristik bawaan. Jika pola perilaku yang kompleks adalah warisan genetis, maka perilaku itu disebut sebagai contoh dari instinct (insting, naluri).
Perilaku naluriah antara lain aktivitas seperti membangun sarang, migrasi, perilaku kawin, dan lain-lain. Burung dan ikan melakukan migrasi karena mereka punya insting migrasi; burung membangun sarang karena punya insting membangun sarang. Jadi, agar perubahan perilaku bisa dikatakan berkaitan dengan proses belajar, perubahan itu harus relative permanent dan harus berasal dari pengalaman. Jika suatu organisme melakukan suatu pola tindakan yang kompleks, namun bukan berasal dari pengalaman, maka tindakan itu tidak bisa dikatakan sebagai perilaku yang dipelajari.
 Kelima, pengalaman, atau praktik, harus diperkuat; artinya, hanya respons-respons yang menyebabkan penguatanlah yang akan dipelajari. Namun harus dibedakan antara penguatan (reinforcement) dan imbalan (reward). Meskipun kedua istilah itu kerap dianggap sama, namun setidaknya ada dua alasan mengapa anggapan itu kurang tepat. Pavlov, misalnya, mendefinisikan suatu penguat (reinforcer) sebagai unconditioned stimulus, yakni setiap stimulus yang menimbulkan reaksi alamiah dan otomatis dari suatu organisme, sedangkan imbalan dianggap sebagai sesuatu yang diinginkan.
Penganut Skinnerian juga tidak mau menyamakan penguat dengan imbalan. Menurut mereka, penganut akan memperkuat setiap perilaku yang secara langsung mendahului kejadian penguat. Sebaliknya, imabalan biasanya dianggap sebagai suatu yang diberikan atau diterima hanya untuk prestasi yang layak pencapaiannya membutuhkan waktu dan energi, atau diberikan untuk tindakan yang dianggap diinginkan oleh masyarakat. Lebih jauh, karena perilaku yang diinginkan itu biasanya sudah lama ada sebelum perilaku tersebut diakui lewat pemberian imbalan, maka imbalan itu tidak bisa dikatakan memperkuat perilaku itu.
 Jadi menurut penganut Skinnerian, penguat akan memperkuat perilaku, namun imabalan tidak. Skinner (1986, dalam Hergenhahn & Olson, 2009) mengelaborasi poin ini: Efek penguatan [dari penguat] akan hilang  ketika penguat disebut imbalan. Orang diberi imbalan, tetapi perilaku diperkuat. Jika, misalnya saat Anda sedang berjalan-jalan di jalanan, Anda menunduk lalu menemukan uang, dan jika uang itu memperkuat tindakan Anda, maka Anda akan cenderung sering-sering menundukkan kepala selama beberapa waktu, namun kita tidak bisa mengatakan bahwa Anda diberi hadiah karena menundukkan kepala. Seperti ditunjukkan oleh akar sejarah dari kata ini, imbalan mengimplikasikan kompensasi, sesuatu yang berkaitan dengan pengorbanan atau usaha. Kita memberi bintang jasa kepada pahlawan, gelar kepada mahasiswa, hadiah kepada pemenang, namun imbalan itu tidak secara langsung bergantung kepada apa-apa yang baru saja mereka lakukan, namun pada umumnya imbalan itu dianggap tidak pantas diberikan jika tidak ada usaha untuk meraihnya.
Sumber : fajristainjusi.blogspot.com/2010/10/apa-itu-belajar.html?m=1
3.       Mengapa kita mengacu pada praktek/tindakan?
berdasarkan kurikulum 2013, penekanan pada tindakan dan sikap lebih diutamakan, atau di fokuskan. Jika dikaitkan pada olahraga, atau proses belajar dalam olahraga, olahraga bukan hanya mengajarkan bagaimana dan seperti apa olahraga tersebut dilakukan, namun olahraga juga membicarakan sikap dan prilaku yang dilihat secara praktek.
4.      Apakah belajar bergantung dalam pengalaman?
Belajar memang selalu dapat dihubungkan dengan pengalaman. Namun ada dimana pengalaman tidak berpengaruh pada belajar. Penjelasannya seperti ini, seorang yang melihat tehnik renang dan belajar dibuku dapat dikatakan belajar meskipun belum terjun langsung mempraktekkannya.







BAB 2
Teori Belajar Motorik Pendekatan Psikologi
1.      Adaptasi teori belajar psikologi
Adaptasi adalah cara bagaimana organisme mengatasi tekanan lingkungan sekitarnya untukbertahan hidup.
Sumber : id.m.wikipedia.org/wiki/Adaptasi
2.       Kelompok teori asosiasi stimulus respon
Pengertian Asosiasi: Menghubungkan antara satu peristiwa dengan peristiwa lain, Antara seseorang dengan orang lain yang dipandang sebagai rangkaian yang saling berhubungan dan keterkaitan satu sama lain.
sumber:http://tutorialkuliah.blogspot.com/2009/10/pengertian-simplikasi-klasifikasi.html
Dalam psikologi, stimulus adalah bagian dari respon stimuli yang berhubunngan dengan kelakuan. Dalam fisiologi, stimulus adalah perubahan lingkungan internal atau eksternal yang dapat diketahui. Ketika stimulis dimasukan kedalam reseptor sensoris, stimulus akan memengaruhi refleks melalui transduksi stimulus.
Sumber : id.m.wikipedia.org/wiki/Stimulus_(fisiologi)
Respons adalah istilah yang digunakan oleh psikologi untuk menamakan reaksi terhadap rangsang yang diterima oleh panca indera. Respons biasanya diujudkan dalam bentuk perilaku yang dimunculkan setelah dilakukan perangsangan. Teori Behaviorisme menggunakan istilah respons yang dipasangkan dengan rangsang dalam menjelaskan proses terbentuknya perilaku. Respons adalah perilaku yang muncul dikarenakan adanyarangsang dari lingkungan. Jikarangsang dan respons dipasangkan atau dikondisikan maka akan membentuk tingkah laku baru terhadap rangsang yang dikondisikan.
Sumber : id.m.wikipedia.org/wiki/Respons
Teori Asosiasi (Stimulus Respon)Oleh Thondike, salah seorang penganut paham behavioristik, menyatakan bahwa belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi Antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon ( R ) yang diberikan atas stimulus tersebut.Pernyataan Thorndike ini didasarkan pada hasil eksperimennya dilaboratorium yang menggunakan beberapa jenis hewan seperti kucing,anjing, monyet, dan ayam.
 Menurutnya, dari berbagai situasiyang diberikan seekor hewan akan memberikan sejumlah respon, dantindakan yang dapat terbentuk bergantung pada kekuatan keneksi atau ikatan-ikatan antara situasi dan respon tertentu. Kemudian ia menyimpulkan bahwa semua tingkah laku manusia baik pikiran maupun tindakan dapat dianalisis dalam bagian-bagian dari dua struktur yang sederhana, yaitu stimulus dan respon. Dengan demikian, menurut pandangan ini dasar terjadinya belajar adalah pembentukan asosiasi Antara stimulus dan respon.
Oleh karena itu,menurut Hudojo (dalam Asnaldi,2008) teori Thondike ini disebut teori asosiasi.Selanjutnya, Thorndike (dalam Orton,1991:39-40; Resnick, 1981:13) mengemukakan bahwa terjadinyaasosiasi antara stimulus dan respon ini mengikuti hukum-hukum berikut:
(1). Hukum latihan (law of exercise), yaitu apabila asosiasi antara stimulus dan respon sering terjadi, maka asosiasi itu akan terbentuk semakin kuat. Interpretasi dari hokum ini adalah semakin sering suatu pengetahuan  yang telah terbentuk akibat tejadinya asosiasi antara stimulus dan respon dilatih (digunakan), maka asosiasi tersebut akan semakin kuat;
(2). Hukum akibat (law of effect), yaituapabila asosiasi yang terbentuk antara stimulus dan respon diikuti oleh suatu kepuasan maka asosiasi akan semakin meningkat. Hal ini berarti (idealnya), jika suatu respon yang diberikan oleh seseorang terhadap suatu stimulus adalah benar dan ia mengetahuinya, maka kepuasan akan tercapai dan asosiasi akan diperkuat.Teori ini disebut dengan teori S-R.dalam teori S-R di katakana bahwa dalam proses belajar, pertama kali organisme (Hewan, Orang) belajar dengan cara coba salah (Trial enderror). Kalau organisme berada dalam suatu situasi yang mengandung masalah, maka organisme itu akan mengeluarkan serentakan tingkah laku dari kumpulan tingkah laku yang ada padanya untuk memecahkan masalah itu. Berdasarkan pengalaman itulah , maka pada saat menghadapi masalah yang serupa, organisme sudah tahu tingkah laku mana yang harus di keleluarkan nya untuk memecahkan masalah. Ia mengasosiasikan suatu masalah tertentu dengan suatu tingkah laku tertentu. Seekor kucing misalnya,yang di masukkan dalam kandang yang terkunci akan bergerak, berjalan, meloncat, mencakar dan sebagainya sampai suatu saat secarakebetulan ia menginjak suatu pedal dalam kandang itu sehingga kandang itu terbuka. Sejak itu, kucing akan langsung menginjak pedal kalau ia dimasukkan dalam kandag yang sama.Objek penelitian dihadapkan kepada situasi baru yang belum dikenal dan membiarkan objek melakukan berbagai pada aktivitas untuk merespon situasi itu, dalam hal iniobjek mencoba berbagai carabereaksi sehingga menemukan keberhasilan dalam membuat koneksi sesuatu reaksi dengan stimulasinya. Penekanan teori behaviorisme adalah perubahan tingkah laku setelah terjadi proses belajar dalam diri siswa. Teori belajar behavioristic mengandung banyak variasi dalam sudut pandangan. Pelopor-pelopo r pendekatan behavioristik pada dasarnya berpegang pada keyakinan bahwa banyak prilaku manusia hasil suatu proses belajar dan oleh karena itu, dapat diubah dengan belajar baru.
Behavioristik berpangkal padabeberapa keyakinan tentang martabat manusia, yang sebagian bersifatfalsafah dan sebagian lagi bercorakpsikologis, yaitu:
a. Manusia pada dasarnya tidak berakhlak baik atau buruk, bagus atau jelek. Manusia mempunyai potensi untuk bertingkah laku baik atau buruk, benar atau salah.Berdasarkan bekal keturunan dan lingkungan, terbentuk pola-pola tingkah laku yang menjadi ciri-ciri khas dari kepribadiannya.
b. Manusia mampu untuk berefleksiatas tingkah lakunya sendiri, menangkap apa yang dilakukannya dan mengatur serta mengontrol prilakunya sendiri.
 c. Manusia mampu untuk memperoleh dan membentuk sendiri pola-pola tingkah laku yang baru melalui proses belajar.
d. Manusia dapat mempengaruhiprilaku orang lain dan dirinya pundipengaruhi oleh prilaku orang lain. Behaviorisme adalah suatu studitentang kelakuan manusia.
 Timbulnya aliran ini disebabkan rasa tidak puas terhadap teori psikologi daya danteori mental state. Sebabnya ialah karena aliran-aliran terdahulu hanya menekankan pada segi kesadaran saja. Konsepsi behaviorisme besar pengaruhnya terhadap masalahbelajar. Belajar ditafsirkan sebagailatihan-latihan pembentukan hubungan antara stimulus dan respons.Dengan memberikan rangsangan(stimulus), maka anak akan mereaksi dengan respons. Hubungan situmulus respons ini akan menimbulkan kebiasaan-kebiasaan otomatis pada belajar, jadi pada dasarnya kelakuan anak adalah terdiri atas respons-respons tertentu terhadap stimulus-stimulus tertentu.
Dengan latihan-latihan pembentukan maka hubungan-hubungan itu akan semakin menjadi kuat. Inilah yangdisebut S-R Bond Theory.Beberapa teori belajar dari psikologi behavioristik dikemukakakn oleh para psikolog behavioristik. Mereka ini sering disebut Contemporary Behaviorists atau jg disebut S-RPsychologists. Mereka berpendapat bahwa tingkah laku manusia itudikendalikan oleh ganjaran (reward) atau penguatan (reinforcement) dari lingkungan. Dengan demikian, dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi-rekasibehavioral dengan stimulasinya. Belajar menurut psikologi behavioristik adalah suatu kontrol instrumental yang berasal dari lingkungan. Belajar tidaknya seseorang bergantung kepada faktor-faktor kondisional yang diberikan oleh lingkungan. Oleh karena itu, teori ini juga dikenal dengan teori conditioning.
Tokoh-tokoh psikologibehavioristik mengenai belajar ini antara lain adalah : Pavlov, Watson,Gutrie dan Skinner.Psikologi aliran behavioristik mulai mengalami perkembangan dengan lahimya teori-teori tentang belajar yang dipelopori oleh Thondike,Pavlov, Wabon, dan Ghuyhrie. Mereka masing-masing telah mengadakan penelitian yang menghasilkan penemuan-penemuan yang berharga mengenai hal belajar.Pada mulanya pendidikan dan pengajaran di Amerika serikat didominasi oleh pengaruh Thondike(1874-1949). Teori belajar Thondike disebut connectionism, karena belajar merupakan proses pembentukan koneksi-koneksiantara stimulus dan respons. Teori inisering disebut trial dan errorlearning individu yang belajar melakukan kegiatan melalui proses trial and error dalam rangka memilih respon yang tepat bagi stimulus tertentu. Thondike mendasarkan teorinya atas hasil-hasil penelitiannya terhadap tingkah laku berbagai binatang antara lain kucing, tingkah laku anak-anak dan orang dewasa.Objek penelitian dihadapkan kepada situasi baru yang belum dikenal dan membiarkan objek melakukan berbagai pada aktivitas untuk merespon situasi itu. Dalam hal itu, objek mencoba berbagai cara beraksi sehingga menemukan keberhasilan dalam membuat koneksi sesuatu rekasi dengan stimulasinya. Ciri-ciri belajar dengan trial and error yaitu :
1)      Ada motif pendorong aktivitas
2)      Ada berbagai respon terhadapsituasi
3)      Ada eliminasi respon-respon yanggagal / salah
4)      Ada kemajuan rekasi-reaksimencapai tujuan.
Dari penelitiannya itu Thondike menemukan hukum hukum :
(1) law of readiness, jika reaksi terhadap stimulus didukung oleh kesiapan untuk bertindak ataubereaksi itu, maka reaksi menjadi memuaskan
(2) law of exercise, makin banyak dipraktekkan atau digunakannya hubungan stimulus respon, makin kuat hubungan itu. Praktek perlu disertai dengan reward.
 (3) law of effect , bila mana terjadi hubungan antara stimulus dan respon dan dibarengi dengan state of affairs yang memuaskan, maka hubungan itu menjadi lebih kuat. Bila mana hubungan dibarengi state of affairs yang mengganggu, maka kekuatan hubungan menjadi berkurang.
Sementara Thondike mengadakan penelitiannya, di Rusia Ivan Pavlov(1849-1936) juga menghasilkan teori belajar yang disebut classkal conditioning atau stimulus substitution. Mula-mula teori conditioning ini dikembangkan oleh Pavlov (1972).Teori Pavlov berkembang dari percobaan laboratoris terhadap anjing. Dalam percobaan ini, anjing diberi stimulus bersyarat sehingga terjadi reaksi bersyarat pada anjing.Ia melakukan percobaan terhadap anjing. Anjing tersebut diberimakanan dan diberi lampu. Pada saat diberi makanan dan lampu keluarkan respon anjing tersebut berupa keluarnya air liur. Demikian juga jika dalam pemberikan makanan tersebut disertai dengan bel,air liur tersebut juga keluar.
 Pada saat bel atau lampu diberikan mendahului makanan, anjing tersebut juga mengeluarkan air liur. Makanan yang diberikan tersebut oleh Pavlovdisebutu sebagai perangsangan yang bersyarat, sementara bel atau lampu yang menyertai disebut sebagai perangsang bersyarat.
Terhadap perangsang tak bersyarat yang disertai dengan perangsang bersyarat tersebut, anjing memberikan respons berupa keluarnya air liur. Selanjutnya, ketika perangsang bersyarat (bel, lampu) diberikan tanpa perangsang tak bersyarat anjing tersebut tetap memberikan respon dalam bentuk keluarnya air liur. Oleh karena perangsang bersyarat (sebagaipengganti perangsang tak bersyarat :makanan) ini ternyata dapat menimbulakn respons, maka dapat berfungsi sebagai conditioned. Karena itu, teori Pavlov ini dikenal teori classkal conditioning.
 Menurut Pavlov pengkondisian yang dilakukan pada anjing demikian ini, dapat juga berlaku pada manusia.Teori kondisioning Pavlov tersebut dapat dimodelkan sebagai berikut : Bel / lampu + makan  air liur(berulang-ulang)Bel / lampu  air liurTeori kondisioning ini lebih lanjut dikembangkan oleh Watson (1970) adalah orang pertama di Amerika Serikat yang mengembangkan teori belajar berdasarkan hasil penelitian Pavlov.
 Watson berpendapat, bahwa belajar merupakan proses terjadinyarefleks-refleks atau respons-respons bersyarat melalui stimulus pengganti. Menurut Watson, manusia dilahirkan dengan beberapa refleks dan reaksi-reaksi emosional berupa takut, cinta dan marah. Semua tingkah laku lainnya terbentuk oleh hubungan-hubungan stimulus-respon baru melalui conditioning. Salah satu percobaannya adalah terhadap anak umur 11 bulan dengan seekor tikus putih. Rasa takut dapat timbul tanpa dipelajari dengan proses ekstinksi, dengan mengulang stimulus bersyarat tanpa di barengi stimulustak bersyarat.E.R. Guthrie memperluas penemuanWatson tentang belajar. Ia mengemukakan prinsip belajar yang disebut the law of association yang berbunyi : suatu kombinasi stimulus yang telah menyertai suatu gerakan,cenderung akan menimbulkan gerakan itu, apabila kombinasi stimulus itu muncul kembali.
 Dengan kata lain, jika anda mengerjakan sesuatu dalam situasi tertentu, maka nantinya dalam situasi yang sama anda akan mengerjakan hal serupa lagi. Menurut gutrie, belajar memerlukan reward dan kedekatan antara stimulus dan respon. Gutrie berpendapat, bahwa hukuman itu tidak baik dan tidak pula buruk.Efektif tidaknya hukuman tergantung pada apakah hukuman itu menyebabkan murid belajr ataukah tidak ?
Teori belajar kondisioning ini kemudian dikembangkan oleh Gutrie(1935-1942). Gutrie berpendapat bahwa tingkah laku manusia dapat diubah : tingkah laku jelek dapatdiubah menjadi baik. Teori Gutrie berdasarkan atas model penggantian stimulus saut ke stimulus yang lain.Responsi atas suatu situasi cenderung di ulang manakala individu menghadapi situasi yang sama. Inilah yang disebut dengan asosiasi. Menurut Gutrie, setiap situasi belajar merupakan gabungan berbagai stimulus (dapat internal dan dapat eksternal) dan respon. Dalam situasi tertentu, banyak stimulus yang berasosiasi dengan banyak respon. Asosiasi tersebut, dapat benar dan dapat juga salah.
Ada tiga metode pengubahan tingkahlaku menurut teori ini, yaitu :
a. Metode respon bertentangan.Misalnya saja, jika anak jijik terhadap sesuatu, sebutlah misalkan saja boneka, maka permainan anak yang disukai tersebut diletakkan di dekat boneka. Dengan meletakkan permainan di dekat boneka, dan ternyata boneka tersebut sebenamya tidak menjijikkan, lambat laun anak tersebut tidak jijik lagi kepada boneka. Peletakan permainan yang paling disukai tersebut dapat dilakukan secara berulang-ulang.
b. Metode membosankan. Misalnya saja anak kecil suka mengisap rokok.Ia disuruh merokok terus sampai bosan; dan setelah bosan, ia akan berhenti merokok dengan sendirinya.
c. Metode mengubah lingkungan. Jikaanak bosan belajar, maka lingkungan belajarnya dapat diubah-ubah sehingga ada suasana lain dan memungkinkan ia betah belajar.
Sumber:bambangriyantomath.wordpress.com/2009/05/29/teori-asosiasi-thondike-dan-penguatan-skinner/
3.       Kelompok teori kognitif
TEORI KOGNITIF Teori kognitif ialah teori yang mengkaji tentang bagaimana caranya persepsi mempengaruhi perilaku, dan bagaimana caranya pengalaman mempengaruhi persepsi yang dilakukan oleh seorang pembelajar. Proses pengkajian tersebut berlaku pada waktu proses pembelajaran berlangsung.
Ada beberapa teori pembelajaran dalam psikologi yang bertumpu pada teori kognitif, Berikut akan dijelaskan salah satu teori, yaitu Teori Perkembangan Kognitif dari Piaget. Teori Perkembangan Kognitif dari Piaget Sinclair-de-Zwart (1969) menyatakan bahwa sebenarnya Piaget belum pernah memperkenalkan secara eksplisit suatu teori pemerolehan (akuisisi) dan pembelajaran bahasa. Teori pembelajaran yang digariskannya dilakukan berdasarkan teori perkembangan kognitif atau perkembangan intelek yang dikembangkannya (Piaget, 1969).
 Oleh karena itu, Simanjuntak (1987) memasukkan teori Piaget ini kedalam kelompok teori kognitif. Untuk memperkenalkan teori perkembangan kognitif, Piaget terlebih dahulu menjelaskan apa yang dimaksud dengan kecerdasan.Menurut Piaget, kecerdasan adalah satu bentuk keseimbangan atau penyeimbangan kearah mana semua fungsi kognitif bergerak. Perkembangan kognitif sebagian besar ditentukan oleh manipulasi dan interaksi aktif anak dengan lingkungan. Menurt piaget, pengetahuan datang dari tindakan, yakni bahwa pengalaman- pengalaman fisik dan manipulasi lingkungan penting bagi terjadinya perubahan perkembangan.
 Sementara itu bahwa interaksi social dengan teman sebaya, khususnya berargumentasi dan berdiskusi membanatu memperjelas pemikiran yang pada akhirnya memuat pemikiran itu menjadi lebih logis (Nur, 1998). Piaget memandang bahwa perkembangan kognitif sebagai suatu proses dimana anak secara aktif membangun system makna dan pemahaman realitas melalui pengalaman-pengalaman dan interaksi-interaksi mereka.
Menurut teori piaget, setiap individu pada saat tumbuh mulai dari bayi yang baru dilahirkan sampai menginjak usia dewasa mengalami empat tahap perkembangan kognitif, yaitu:
1.      Tahap deria-motor (sensory motor) Tahap deria-motor atau biasa disebut sensory motor muncul sebelum perkembangan dimulai, perkiraan usia anak pada tahapini yaitu dari lahir atau o (nol) tahun samapai 2 tahun. Pada tahap ini kecerdasan telah mempunyai struktur yang didasarkan pada aksi dan pada gerakan-gerakan serta pengamatan tanpa bahasa. Aksi-aksi ini dikoordinasikanataudiselaraskan dengan cara yang stabil oleh skema-skema aksi yaitu rencana perilaku. Contoh perkembangan kognitif pada tahap ini salah satunya yaitu perkembanagan seorang anak berumur 12 bulan. Biasanya anak seusia tersebut telah dapat menarik selimut atau taplak meja untuk mendapatkan benda yang ada diatas selimut atau taplak yang jauh dari jangkauannya. Gerakan menarik selimut atau taplak untuk mendapatkan benda itu merupakan satu skema, yaitu satu tindakkan kecerdasan untuk mencapai satu tujuan. Satu skema merupakan asimilasi benda- benda atau situasi-situasi yang sudah ada dan dipahami.
2.      Tahap praoperasi Tahap praoperasi yaitu tahap perkembangan kognitif yang terjadi antara umur 2 tahun sampai 7 tahun. Kanak-kanak pada usia satu atau dua tahun mengalami munculnya satu peristiwa yang disebut fungsi simbolik. Fungsi simbolik merupakan kepandaian kanak-kanak untuk membedakan apa yang disebut significant atau lambang, dengan apa yang disebut significate,yaitu objek atau benda yang dilambangkan dengansignificant itu. Pada tahap deria-motor setiap gerak atau permainan yang dilakukan kanak- kanak merupakan latihan gerak saja. Sedangkan tahap praoperasi permainan merupakan permainan simbolik, yakni suatu benda dilambangkan oleh benda yang lain. Pada tahap ini kanak-kanak juga sudah mampu melakukan peniruan yang ditunda. Maksudnya ialah peniruan yang dilakukan setelah benda atau objek yang ditiru itu sudah berlalu atau sudah tidak ada. Jadi, peniruan tersebut dilakukan tanpa kehadiran benda aslinya. Hal tersebut merupakan satu jenis simbolisasi atau bayangan mental (akal). Pada masa simbolisasi inilah kanak- kanak mulai memperoleh bahasa, yakni lambang-lambang ucapan.
3.       Tahap operasi konkret Tahap operasi konkret yaitu operasi sebenarnya mengenai objek-objek konkret antara umur 7 tahun sampai 12 tahun. Pada tahap ini kanak-kanak telah mampu melihat atau memahami kelas-kelas yang dan hubungan-hubungan yang logis diantara benda-benda, dan juga nomor-nomor. Misalnya, kanak-kanak telah memahami bahwa mawar termasuk dalam kelas atau kelompok bunga, ataupun kucing termasuk kelompok hewan, ini menandakan bahwa mereka telah mampu menggolongkan benda-benda yang serupa mapun benda- benda yang berlainan sesuai dengan kelas atau golongan-golongannya. Pada tahap ini kanak  kanak juga telah mampu mengatur benda-benda yang sama ukurannya atau beratnya, termasuk pengaturan dan penghitungan nomor-nomor.
4.       Tahap operasi formal Tahap operasi formal yaitu tahap operasi proposisi setelah berumur 12 tahun. Pada tahap ini kanak-kanak telah mampu berpikir berdasarkan proposisi atau hipotesis; dan tidak lagi berdasarkan benda-benda konkret seperti pada tahap sebelumnya. Pada tahap ini, operasi pemikiran sudah semakin rumit, dan peranan bahasa dalanm pembelajara dan juga pemahaman semakin besar. Contoh perkembangan kognitif pada tahap ini yaitu seorang anak telah mampu memahami soal-soal dengan tingkat kesulitan yang membutuhkan waktu untuk memahami soal tersebut. Misalnya, ada pernyataan seperti berikut: Ali lebih besar daripada Basir, Ali lebih kecil daripada Hasan. Kemudian seoran anak diberikan pertanyaan/ soal, Siapa yang lebih kecil diantara ketiganya?.
Pada tahap ini sesungguhnya anak yang berusia setelah 12 tahun mampu untuk menjawab pertanyaan tersebut. Piaget menjabarkan implikasi teori kognitif pada pendidikan yaitu:
1) Memusatkan perhatian pada berpikir atau proses mental anak, tidak sekedar pada hasilnya. Di samping kebenaran jawaban siswa, guru harus memahami prosesyang digunakan anak sehingga sampai pada jawaban tersebut. Pengalaman-pengalaman belajar yang sesuai dikembangkan dengan memperhatikan tahap fungsi kognitif siswa yang mutakhir, dan jika guru penuh perhatian terhadap pendekatan yang digunakan siswa untuk sampai pada kesimpulan tertentu, barulah dapat dikatakan guru berada dalam posisi memberikan pengalaman sesuai dengan yang dimaksud.
 2) Memperhatikan peranan pelik dari inisiatif anak sendiri sendiri, keterlibatan aktif dalam kegiatan pembelajaran. Dalam kelas, Piaget menekankan bahwa penyajian pengetahuan jadi (ready- made) tidak mendapat penekananan,melainkan anak didorong menemukan sendiri pengetahuan itu (discovery maupuninquiry) melalui interaksi spontan dengan lingkungannya.
3) Memaklumi akan adanya perbedaan individual dalam hal kemajuan perkembangan. Teori Piaget mengasumsikan bahwa seluruh siswa tumbuh dan melewati urutan perkembangan yang sama, namun pertumbuhan itu berlangsung pada kecepatan yang berbeda.
 Oleh karena itu guru harus melakukan upaya untuk mengatur aktivitas di dalam kelas yang terdiri dari individu individu ke dalam bentuk kelompok-kelompok kecil siswa dari pada aktivitas dalam bentuk klasikal., Berdasarkan penjelasan yang telah dikemukakan tersebut, dapat disimpulkan bahwa pemerolehan bahasa merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perkembangan kognitif. Bahasa merupakan hasil dari perkembangan intelek secara keseluruhan dan sebagai lanjutan dari pola-pola yang sederhana. Teori perkembangan kognitif juga dapat diartikan sebagai suatu proses untuk mengetahui sesuatu melalui proses belajar. Dimana dalam proses belajar tersebut, seorang anak akan bertindak dengan melakukan suatu usaha untuk memahami sesuatu.
Pengertian lain menyebutkan bahwa teori perkembangan kognitif merupakan cara mempersepsikan dan menyusun informasi yang berasal dari lingkungan sekitar. Tindakan tersebut dilakukan secara aktif oleh oleh seorang pembelajar. Cara aktif yang dilakukan dapat berupa mencari pengalaman baru, memecahkan suatu masalah, mencari informasi, mencermati lingkungan, serta mengaplikasikannya guna mencapai tujuan. Contoh nyata yang dapat kita lihat dalam kehidupan sehari- hari ataupun di lingkungan sekitar, contohnya yaitu apabila kita adalah seorang ibu, pastinya kita dapat melihat perkembangan anak kita semenjak ia masih berusia nol tahun hingga dewasa.
Dalam perkembangan seorang anak, pasti akan selalu diikuti dengan adanya proses belajar. Tanpa disadari tindakan-tindakan yang dilakukan seorang anak akan menjadikan hal itu sebagai sebuah pengalaman dan akan terus berkembang seiring dengan kemampuan kognitif seorang anak pada usianya. Ada empat tahap perkembangan yang telah dikemukakan oleh Piaget, hal tersebut menunjukkan bahwa pemerolehan bahasa dihasilkan sesuai dengan kemampuan kognitif mereka dan terus berkembang sesuai dengan pengalaman yang diterima. Teori belajar kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia


















DAFTAR PUSTAKA

http://www.darenlaugh.ml/
http://belajar psikologi.com/pengertian-belajar-menurut-ahli/ diakses pada 24/02/14
http:// m.kompasiana.com/post/read/570565/3/teori-kognitif/ diakses pada 23/02/14
http://bambangriyantomath.wordpress.com/2009/05/29/teori-asosiasi-thondike-dan-penguatan-skinner/
http://fajristainjusi.blogspot.com/2010/10/apa-itu-belajar.html?m=1
http://tutorialkuliah.blogspot.com/2009/10/pengertian-simplikasi diakses pada 240214
id.m.wikipedia.org/wiki/Respons
id.m.wikipedia.org/wiki/Stimulus_(fisiologi)
http://fajristainjusi.blogspot.com/2010/10/apa-itu-belajar.html?m=1



 

Artigos Relacionados

0 komentar, BUDAYAKAN UNTUK MENINGGALKAN KOMENTAR: